Posted by: maxx | Mei 9, 2008

Maxx - Linux Diary

Terpegun pada Linux ketika mencoba LiveCD punya Mandriva (lupa versinya berapa). Waktu itu hanya sekedar coba-coba, tapi akhirnya kecantol juga pada keindahan tampilan desktopnya serta kemampuannya yang bisa berjalan dengan baik dan lumayan stabil pada sebuah “mesin tua” berprosesor Via setara Pentium III, padahal RAM-nya hanya 128MB. Saat itu kita masih menggunakan Windows XP sebagai host dan sekaligus Sistem Operasi umum di Sambas.

Penasaran jadinya pengen nyoba distro lainnya (padahal kepengen banget langsung nginstal Mandriva saja, sayangnya gak bisa waktu itu karena CDnya hanya buat LiveCD). Ketemu juga akhirnya dengan SuSE. Installasi yang mudah dan lumayan cepat walau hanya menggunakan Pentium IV 1,6 GHz dan 256 MB RAM. Namun pada beberapa hal, terutama sulitnya mengatur kompatibilitas layar (monitor) sehingga display menjadi kacau, gak jadi deh migrasi ke Linux. Saya kembali ke OS sebelumnya, yaitu Windows XP SP2.

Tak lama kemudian, akhirnya gak lagi pinjam-pinjam DVD punya teman buat nyoba Linux. Saya sudah membeli sendiri majalah InfoLinux dan dari situ banyak bonus-bonus distro menarik yang layak coba. Slackware, gaya indahnya juga cukup memukau dengan system installasi yang sangat sederhana dan cepat. Distro ini paling lama nginap di desktop ku. Mengapa hanya “nginap”? Karena saya masih punya ketergantungan kepada XP walaupun di benak saya ini sudah kepengen segera pindah atau bahasa kerennya “migrasi’. Bukan benci sama XP, kepengen saja punya PC Canggih dengan kreasi sendiri dan disesuaikan dengan keinginan keperluan sehari-hari.

Dengan kemampuan Linux berjalan di mesin-mesin tua dan spek rendah namun tetap stabil dan kenceng… saya jadi selalu kepengen segera ke gerbang migrasi ini. Setelah mencoba Slackware (masih bermasalah dalam penginstalan soundcardnya), akhirnya mencoba distro turunan Ubuntu yang telah dibundel dengan beragam fitur multimedia, yaitu Linspire. Namun gembar gembor Ubuntu tetap menarik perhatian saya untuk kemudian menggunakan 100% Ubuntu. Namun, kendala ada pada cara penginstallan Ubuntu yang terkesan sulit bagi saya karena setiap kali mau menginstal pilihan yang ada hanya “instal di keseluruhan kapasitas hardisk” dan “manual” yang ujung-ujungnya men-take over seluruh kapasitas hardisk dan saya tidak ingin itu terjadi. Mengapa? Karena dalam beberapa hal tertentu, tentunya saya masih memerlukan XP (saat ini masih tergantung pada XP untuk Internet, Office, Televisi Satelit, dan beberapa hal lainnya).

Terpaksa mengasah ilmu lebih dalam dulu buat “migrasi” besar-besaran dalam arti 100% meninggalkan XP. Kendala saat ini adalah menginstall salah satu distro ke Laptop dengan spek sangat minim dan tua sekali:

  • Monitor LCD buatan tahun 1990
  • CPU Intel Celeron 431 MHz
  • FSB 64
  • RAM 64MB Onboard
  • Floppy A: sudah tidak berfungsi
  • CD ROM Drive sudah tida berfungsi

Sungguh menyedihkan memang, tapi begitulah kenyataan. Setelah beberapa kali mencoba menginstall Ubuntu, hanya Ubuntu 7.10 Server saja yang bisa masuk (menggunkan cara hd-media). Dicoba pake Ubuntu 7.04 (Feisty) masih gagal. Ubuntu 7.10 Desktop juga sama sekali gak bisa.

Terakhir mencoba Ubuntu 7.04 menggunakan Hardisk Eksternal methode. Dua hari yang lalu (baru tadi pagi selesainya, 9 Mei 2008), mencoba menggunakan metode ini yaitu menggandeng hardisk laptop ke desktop menggunakan kabel IDE to USB. Installasi berjalan mulus di laptop. Kemudian desktop direstart. Hardisk dimasukkan ke laptop lagi, dicoba booting, sistem kemudia mengecek bios dan berhasil.

Ketika booting berjalan dan sukses, masalah di tengah jalan adalah Xserver gak bisa jalan sehingga desktop Gnome gak bisa ditampilkan. (EE) errror, No Devices, Fatal Error, No Display. Singkatnya, monitor keluaran SIS tahun 1990 ini tidak dikenali oleh kernel dan module Ubuntu. Kalau dipikir-pikir, hal ini benar adanya karena waktu itu tentunya Linux masih dalam tahap pengembangan. Solusi utamanya mungkin hanya dengan “mengkompile” ulang kernel. Tapi, saya kan masih nubi banget, mana mungkin melakukan ini. Mengedit XORG.conf saja belum bisa.

Namun semangat ingin menampilkan linux di mesin tua ber-OS XP ini tetap menyala, masih mencari-cari distro dan hack yang sesuai dengan spek, I believe someone with something out there exist to help me.

Posted by: maxx | April 26, 2008

Blogging Terpisah

Melihat antusias pengunjung blog saya ini yang terbagi ke dalam beberapa kelompok, dan melihat posting yang paling sering diklik, akhirnya saya mengambil kesimpulan dan memutuskan untuk ngeblog terpisah dengan kategory blog sebagai berikut:

- All About Satelit TV dan Parabola yang telah saya buat di 2 (dua) tempat (blogspot dan WordPress) dan konsentrasinya sepertinya ke WordPress (entah kenapa saya sangat familiar ngeblog di WP - asyiiikkk gitu lho!). Untuk situs blog ini telah saya buat di http://visisat.wordpress.com.

- All About Software dan Ebook, telah ada sejak kemaren dengan alamat http://softbook.wordpress.com. Posting di sini emang masih sedikit, kebetulan waktu luang sangat sempit.

- All About Bisnis Online, masih dalam tahap perencanaan mau dikasih nama/alamat URL apaan. Kalo teman-teman punya masukan, silakan kasih dengan posting komentar di sini.

Situs blog ini (maximalprime) mungkin gak akan terlalu banyak dikasih posting lagi dengan konsentrasi di ke 3 (tiga) situs blog tersebut. Kebetulan ketiga jenis situs tersebut sesuai dengan hobby saya. Termasuk berforum, juga bagian dari rutinitas yang tidak pernah bisa saya tinggalkan lagi, ketagihan sejak Forum Transmisi eksis dulu.

Situs blog ini (maximalprime) masih tetap eksis (tidak akan ditutup), namun informasinya bakalan lebih banyak ke perihal pribadi saja dan akan berada di luar ketiga konten blog di atas. Mohon dimaklumi.

Atas antusias rekan-rekan online yang masih setia mengunjungi blog ini saya ucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalasnya. Amiinnn!!!

salam,

maxx d’nubie

Categories