Bensin Langka? Pengecer Main Harga

BBM khususnya bensin langka? Kesempatan lagi buat para pengecer bensin tuk "mendongkrak" harga setinggi-tingginya. Terakhir dengar, ada yang jual Rp.10.000,- per liter (mudah-mudahan kondisi segera membaik).

Syukur-syukur ada tempat langganan beli bensin yang rela menjual dengan harga normal walaupun tidak senormal biasanya. Rp.5.500,- per liter di saat kelangkaan terjadi masih bisa dibilang normal, sedangkan harga biasanya adalah 5 (lima) ribu rupiah per liter. Di Kota Sambas sendiri kenaikan harga ini terjadi sejak Senin siang, bahkan ada teman yang punya kios sempat menjual dengan harga biasa di hari itu dan seratusan liter habis hanya dalam hitungan jam (satu jam lebih).

Untuk Kecamatan Teluk Keramat khususnya di Sekura dan sekitarnya, harga sempat melambung hingga Rp.8.000,- s/d Rp.9.000,- per liter. Yang menyakitkan adalah ketika "pengecer" mendengar telah terjadinya kenaikan harga bensin di Kota Sambas dan daerah sekitarnya, segera sang pengecer "menyembunyikan" bensin yang tadinya jelas-jelas masih banyak di kiosnya, lalu bilang kepada pembeli bahwa bensin habis dan sulit dicari. Namun, keesokan harinya (atau bahkan ada yang beberapa jam kemudian) sudah "memajang" kembali jeriken-jeriken berisi bensin (yang tentunya adalah bensin yang kemaren telah disembunyikan).

Aksi para pengecer yang demikian telah memicu kenaikan harga serentak di daerah ini. Satu per satu pengecer yang kemudian mendengar adanya kenaikan harga bensin baik dari pengecer lain maupun dari para pembeli sontak saja menaikkan harga jual bensinnya.

Kurangnya "pengawasan" dari pemerintah setempat jelas membuat kecewa para konsumen dan yang lebih jelas lagi adalah tidak "berfungsinya" lembaga pengawasan konsumen yang ada di negara tercinta ini. Harusnya tindakan para pengecer yang "mengambil untung" sesaat ini bisa diawasi dan ditindak karena tentunya sangat merugikan para konsumen. Karena alasan "bensin langka" merupakan alasan klasik para pengecer seperti kejadian-kejadian sebelumnya beberapa waktu yang lalu.

Tapi, sejauh manakah kepedulian pemerintah kepada rakyat (konsumen) khususnya pemerintah setempat? Sepertinya tidak ada usaha sama sekali, dan tentunya "orang-orang pintar" di atas sana hanya akan mengembalikan permasalahan ini kepada "Hukum Ekonomi" yang telah "diakui" sejak dipelajari di bangku sekolah. Hukum ini lah yang kemudian "menghukum" rakyat kecil (baca: konsumen) yang terus-terusan dirugikan. So… kapan untungnya yah???????

Semoga ada yang mendengar di luar sana…

salam

maxx d’nubi

Perihal maxx
Dulu saya sekolah di SMK Jurusan Sekretaris, dan pernah kuliah di FKIP Untan Jurusan PBS (Bahasa Inggris) - tidak kelar sih. Saya hanya blogger biasa, tidak sedang berusaha menghasilkan uang lewat ngeblog, tapi jika ada yang mau ngasih uang kepada saya, gak bakalan saya tolak. Hehehe... Just Kidding! Happy surfing, moga menemukan apa yang teman-teman cari!

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: